Pusat Madu & Herbal

Kamis, 18 September 2014

Anak Dalam Pandangan Islam

Melihat tingkah laku anak-anak memang menggemaskan, terutama yang masih balita. Mereka lugu tanpa dosa. Mempunyai anak-anak adalah dambaan dan kebanggan setiap orang tua. Mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya, buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, pelindung orang tua terutama ketika mereka sudah dewasa dan orang tua sudah berusia lanjut. 

Namun, tidak bisa dipungkiri kenyataan hidup di dunia ini bahwa ada juga anak-anak yang malah membuat orang tuanya sengsara baik di dunia dan bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. 

Secara fitrah setiap orang tua akan tumbuh perasaan cinta terhadap anak dan akan tumbuh pula perasaan psikologis lainnya, berupa perasaan kebapakan dan keibuan untuk merawat, mengasihi, menyayangi dan memperhatikan anak. Andai perasaan-perasaan psikologis seperti itu tidak ada, pasti lama-kelamaan manusia akan lenyap dari permukaan bumi dan orang tua tidak akan sabar merawat anak-anak mereka. Tidak mau mengasuh dan mendidik, tidak mau memperhatikan persoalan dan kepentingan-kepentingan anak-anak mereka. 

Setiap anak terlahir dalam keadaan suci, selalu meng-ilahkan Allah. Ini artinya, tidak ada anak yang lahir dengan membawa rangkaian dosa dari orang tua. Namun seiring dengan perjalanan hidup, mereka memiliki tingkah laku yang berbeda. Perubahan tingkah laku ini justru dampak dari pengaruh lingkungan sekitar, baik lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat tempat tinggal anak. Rasulullah bersabda, ”Setiap manusia lahir dalam keadaan suci, maka orang tualah yang menjadikan Yahudi, Majusi, dan Nasrani.” 

Sebagai rujukan yang selalu terbukti kebenarannya dan tidak bisa diragukan, Al-Qur’an memberikan gambaran tentang tingkah laku anak sebagai hasil dari proses perkembangan anak. Ada empat model tingkah laku anak menurut al-Qur’an. 
1. Anak sebagai penyejuk mata
Semua orang tua berharap dikaruniai anak yang bisa menyejukkan mata hati. Anak yang selalu memegang tali kebenaran dalam setiap langkah. Anak penyejuk mata hati menjadi investasi bagi orang tua. Baik di dunia maupun di akhirat senantiasa mengawal orang tua dengan doa-doa dan perilaku mulia. 
Meskipun kehidupan di dunia putus, doa anak penyejuk mata tetap mengalir. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw. 
“Ketika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amal perbuatan, kecuali tiga hal. Sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang senantiasa mendoakan orang tua”. Sungguh beruntung jika kita semua memiliki anak penyejuk mata hati. Untuk itulah setiap saat orang tua selalu berharap lewat doa sepanjang hari.


“Dan orang-orang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak sebagai penyejuk mata/ penyenang hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Furqon:74) 
Contoh sikap anak yang dapat menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya : 
• Anak yang bersikap sopan, berkata dengan lembut. 
• Mendengarkan dan melaksanakan nasehat orang tua. 
• Mengerjakan sholat tepat waktu. 
• Rajin membaca Al Qur’an. 
• Mendoakan kedua orang tua. 
2. Anak sebagai hiasan
Anak yang menjadi hiasan bagi orang tua adalah anak yang sekedar memberikan kebahagiaan di dunia. Anak seperti ini hanya sebagai kebanggaan untuk jangka pendek, yakni berlaku di dunia. Tak ubahnya seseorang memiliki kekayaan berupa harta benda, seperti mobil, rumah, semua itu tidak sampai dibawa mati. 
Ketika kehidupan dunia putus, maka putuslah semua urusan dengan anak. Anak sebagai hiasan tak mampu memberikan kontribusi kepada orang tua saat kematian telah tiba. Orang tua hanya membawa amalan yang dilakukan sendiri. Sementara anak, tak mampu berperan dengan doa-doanya dan amal perbuatannya. 
Sungguh merugilah kondisi orang tua yang hanya mempunyai anak sebagai hiasan. Sebagai hiasan anak hanya kebanggaan, sebagai benda yang hanya untuk dipamerkan. Kelebihan-kelebihan anak bukan nilai-nilai spiritual. Kelebihan-kelebihan anak masih bersifat duniawi. Anak-anak tidak mengerti cara berbakti. Anak-anak tidak bisa berdoa dan melanjutkan amalan baik yang sudah dilakukan oleh orang tua. Betapa ruginya jika ini yang terjadi. 
 

“Harta dan anak-anakmu adalah hiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya sisi Allah serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(Q.S. Al-Kahfi:46) Contoh anak sebagai hiasan dunia bagi kedua orang tuanya : 
• Anak yang pandai di sekolah namun ketika di rumah dia sopan terhadap kedua orang tua, berkata kasar, tidak menaati nasehat orang tua, ibadahpun dia tinggalkan. 
• Anak yang telah memenangkan berbagai kejuaraan lomba tapi dia melupakan sholatnya. Karena asyik sedang berlatih sengaja menunda-nunda waktu sholatnya. 
3. Anak sebagai fitnah
Anak-anak terkadang tumbuh tidak sesuai dengan harapan orang tua. Malah tidak sedikit anak-anak justru menjadi ujian bagi orang tua. Mungkin di rumah tidak ada masalah dengan orang tua. Tetapi mereka menjadi fitnah dari perilaku yang dilakukan di luar rumah. Agenda permasalahan muncul dari sikap dan tingkah laku di luar rumah. 
Di rumah, tutur katanya sopan dan tidak menampakkan perilaku yang buruk. Namun ketika di luar pengaruh teman, membuatnya ikut terbawa arus pergaulan yang salah. Ketika sudah berhubungan dengan pihak yang berwajib, maka orang tualah yang terkena dampak negatif dari perilaku anak. 
Anak-anak saat ini sulit membedakan baik dan buruk. Justru yang sering menjadi pilihan bagi anak adalah senang dan tidak senang. Jika modal spiritual kurang, maka pilihan anak-anak adalah yang menyenangkan dengan mengabaikan nilai-nilai kebenaran. Persoalan inilah yang kini menjadi masalah besar. Perilaku anak tidak lagi mempertimbangkan kebenaran. Banyak dijumpai anak-anak salah arah yang jauh dari harapan orang tua dan harapan agama. 
 

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah bagimu, di sisi Allahlah pahala yang besar.”(Q.S. At-Taghobun:15) 
Contoh anak sebagai fitnah bagi kedua orang tuanya : 
• Anak yang ketika di rumah dia sopan kepada orang tua, taat kepada orang tua, namun ketika di sekolah dia sering meminta uang kepada teman secara paksa, berkelahi dengan teman, bahkan tawuran dengan murid sekolah lain. 
• Anak yang ketika di rumah patuh dengan orang tua, namun ketika berangkat ke sekolah dia tidak sampai di sekolah tapi dia malah pergi ke tempat play station. 
• Ketika di rumah dia taat dengan orang tua, tapi tanpa sepengetahuan orang tua dia gunakan uang pembayaran sekolah untuk jajan sampai habis. Suka mengambil barang milik teman.


4. Anak sebagai musuh
Tidak ada satupun orang tua yang ingin melahirkan anak durhaka. Anak yang justru akan menjadi musuh bagi orangtuanya. Jangan mengira anak yang dilahirkan selalu bisa menjaga orang tua. Itulah sebuah harapan. Namun, perkembangan zaman yang miskin nilai-nilai positif, kerap menyeret anak-anak dalam kedurhakaan. Berperilaku sadis dan bengis terhadap orang tua. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, justru melampiaskan amarah kepada orang tua.Na’udzubillahi min dzalik. 
 

“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka, maka sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”(Q.S. At-Taghobun: 14) 
Maksudnya adalah kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.


Contoh anak sebagai musuh bagi kedua orang tuanya : 
• Berkata kasar kepada kedua orang tua. 
• Marah apabila keinginannya tidak terpenuhi. 
• Tidak segan menyakiti kedua orang tua. 
• Tidak mau mendengarkan nasehat orang tua. 
• Berkata bohong. 
• Malas beribadah.


Pola pengasuhan dan pendidikan di rumah, sekolah dan lingkungan sekitar sangat memberikan corak dan warna bagi anak-anak. Untuk itu berikan yang terbaik bagi anak-anak. Kelak anak-anak akan memberikan yang terbaik bagi orang tua. Yakin dan selalu minta perlindungan kepada Allah. Insya-Allah anak-anak kita akan diselamatkan dari jurang kehancuran. 

Maka Wahai diri dan para pembaca sekalian, janganlah berjauhan dari Al Qur'an dan Sunnah. Jika kita berjauhan bahkan sampai meninggalkannya maka yakinlah kita akan TERSESAT dan akan berbuah PENYESALAN tidak hanya di dunia saja tapi akan sampai ke akherat nanti!!!. Banyak ayat-ayat di Al Qur'an yang mengabarkan penyesalan orang-orang dahulu yang tidak beriman kepada Allah. 

Tulisan ini sebagai pengingat diri, nasehat diri. Sungguh kita bukanlah hamba Allah yang tak luput dari dosa. Kita hambaNya yang penuh dosa yang terus berharap sampai detik nafas terakhir, maghfirahNya. Ridho Allah yang kita dambakan. 
Sumber: Buku Pendidikan Anak dalam Islam, Dr. Abdullah Nashih Ulwan.





Sumber Berita: www.teraskreasi.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar